11 Oktober 2026 - 19:31
Jangan Batasi Zikir kepada Allah pada Waktu-Waktu Tertentu

Syekh Hamid Jalaleh Mukindinge, ulama senior komunitas Syiah Tanzania sekaligus imam salat berjemaah Masjid Ghadir di kawasan Kigogo Post, Dar es Salaam, dalam khotbah Jumatnya mengajak umat Islam untuk senantiasa menghidupkan tradisi mengingat Allah dan berselawat kepada Nabi Muhammad saw. Ia juga menilai bahwa pertemuan umat Islam pada bulan Rabiulawal dan Rabiulakhir merupakan kegiatan yang baik dan bernilai dalam memperkuat kecintaan kepada Rasulullah.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA- Syekh Hamid Jalaleh Mukindinge, ulama senior komunitas Syiah Tanzania dan imam salat berjemaah Masjid Ghadir di kawasan Kigogo Post, Dar es Salaam, dalam khotbah Jumat yang disampaikannya sehari sebelumnya, mengajak kaum mukmin untuk terus menghidupkan tradisi berzikir kepada Allah Swt. dan berselawat kepada Nabi Muhammad saw. Ia menekankan pentingnya selawat serta keutamaan memohon rahmat dan keselamatan bagi Rasulullah.

Syekh Jalaleh menyampaikan bahwa pertemuan umat Islam pada bulan Rabiulawal dan Rabiulakhir untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad saw. merupakan kegiatan yang baik dan sangat bernilai. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki peran penting dalam memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menghidupkan budaya mengingat Allah Swt.

Pada awal khotbahnya, Syekh Jalaleh membacakan dua ayat Al-Qur'an dari Surah Ali Imran yang menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, serta sifat orang-orang beriman yang senantiasa mengingat Allah dalam berbagai keadaan kehidupan mereka.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Allah Swt. juga berfirman:

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka lindungilah kami dari azab neraka.’” (QS. Ali Imran: 191)

Dalam penafsirannya terhadap kedua ayat tersebut, Syekh Jalaleh menjelaskan bahwa umat Islam di kawasan Afrika Timur kerap berkumpul sepanjang bulan Rabiulawal dan Rabiulakhir untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad saw. Ia menegaskan bahwa pertemuan-pertemuan tersebut merupakan kesempatan penting untuk menjaga kecintaan kepada Rasulullah sekaligus memperkuat budaya zikir dan mengingat Allah di tengah masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa berselawat kepada Nabi Muhammad saw. merupakan salah satu amalan yang memiliki keutamaan sangat besar. Menurutnya, mengingat Rasulullah serta memohon rahmat dan keselamatan bagi beliau merupakan bagian dari ibadah yang mengingatkan manusia kepada Allah dan mendekatkan dirinya kepada-Nya.

Syekh Jalaleh menjelaskan bahwa kedua ayat tersebut mengajarkan pentingnya mengingat Allah dalam seluruh keadaan kehidupan, baik ketika seseorang sedang berdiri, duduk, maupun berbaring. Zikir tersebut juga harus disertai perenungan terhadap ciptaan Allah.

Menurutnya, seorang mukmin hendaknya menjadikan zikir dan mengingat Allah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan membatasinya hanya pada ibadah yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu.

Dalam kelanjutan khotbahnya, Syekh Jalaleh menyinggung sejumlah nasihat Nabi Muhammad saw. kepada salah seorang sahabatnya, Abu Dzar al-Ghifari. Nasihat tersebut menjelaskan bagaimana manusia seharusnya memperhatikan perbuatannya, memiliki rasa takut terhadap dosa, serta senantiasa berharap kepada rahmat Allah Swt.

Dalam riwayat pertama, Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Dzar:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّ الْعَبْدَ لَيُعْرَضُ عَلَيْهِ ذُنُوبُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ، فَيَقُولُ: أَمَا إِنِّي كُنْتُ خَائِفًا مُشْفِقًا، فَيُغْفَرُ لَهُ

“Wahai Abu Dzar! Pada hari kiamat, dosa-dosa seorang hamba akan diperlihatkan kepadanya. Ia pun mengingat dosa-dosanya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku dahulu merasa takut dan khawatir terhadap akibat dosa-dosa tersebut.’ Maka ia pun memperoleh ampunan.”

Dalam menjelaskan kandungan riwayat tersebut, Syekh Jalaleh mengatakan bahwa sebagian orang terjerumus ke dalam kesalahan dan dosa. Namun, setelah beberapa waktu, mereka mulai menyadari beratnya kesalahan serta akibat dari perbuatan mereka. Kesadaran tersebut kemudian menimbulkan rasa takut dan penyesalan atas apa yang telah dilakukan.

Ia menjelaskan bahwa penyesalan dan rasa takut terhadap akibat dosa dapat mendorong manusia untuk kembali kepada Allah dan memohon ampunan-Nya.

Syekh Jalaleh mengingatkan bahwa Allah Swt. Maha Pengasih dan Maha Pengampun terhadap hamba-hamba-Nya. Mereka yang kembali kepada-Nya dengan kerendahan hati dan penyesalan yang sungguh-sungguh akan memperoleh rahmat dan ampunan-Nya.

Peringatan agar Tidak Meremehkan Dosa

Dalam bagian lain dari nasihat tersebut, Nabi Muhammad saw. memperingatkan Abu Dzar tentang bahaya meremehkan dosa-dosa kecil dan merasa aman hanya karena telah melakukan sejumlah amal kebaikan.

Rasulullah saw. bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الْحَسَنَةَ فَيَتَّكِلُ عَلَيْهَا، وَيَعْمَلُ الْمُحَقَّرَاتِ حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ السَّيِّئَةَ فَيَفْرَقُ مِنْهَا، فَيَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Wahai Abu Dzar! Adakalanya seseorang melakukan suatu kebaikan, kemudian bersandar dan merasa puas dengan kebaikan tersebut. Namun, pada saat yang sama, ia terus melakukan dosa-dosa yang dianggapnya kecil dan sepele, hingga akhirnya ia menghadap Allah dalam keadaan Allah murka kepadanya. Sebaliknya, adakalanya seseorang melakukan suatu keburukan, tetapi ia merasa takut terhadap perbuatannya itu, sehingga pada hari kiamat ia datang dalam keadaan aman.”

Dalam menjelaskan riwayat tersebut, Syekh Jalaleh menegaskan bahwa manusia harus berusaha menjauhkan diri dari segala bentuk dosa, termasuk dosa-dosa yang dianggap kecil atau tidak memiliki akibat yang berarti.

Ia memperingatkan bahwa kebiasaan meremehkan kesalahan dapat mendorong seseorang untuk terus mengulanginya tanpa menyadari konsekuensi perbuatannya di hadapan Allah Swt.

Pada akhir khotbahnya, Syekh Jalaleh mengingatkan kaum mukmin agar segera bertobat setiap kali terjerumus ke dalam kesalahan dan dosa. Ia menasihati mereka untuk tidak menunda-nunda tobat dan tidak terpedaya oleh amal kebaikan yang pernah dilakukan pada masa lalu.

Menurutnya, seseorang tidak seharusnya merasa aman dari azab Allah hanya karena telah melakukan sejumlah perbuatan baik. Sebaliknya, setiap manusia harus senantiasa mengevaluasi amal perbuatannya, berusaha memperbaiki diri, dan memohon ampunan kepada Allah Swt.

Ia menegaskan bahwa rasa takut kepada Allah dan penyesalan atas kesalahan harus menjadi dorongan bagi manusia untuk bertobat serta menjauhi perbuatan dosa. Namun, pada saat yang sama, manusia juga harus senantiasa memelihara harapan terhadap rahmat dan kasih sayang Allah Swt.

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha